![]() |
| Muhammad Ikhsan, seorang pekerja kantoran yang mulai rutin berinvestasi melalui Tabungan Emas di BRImo. |
Ponsel di tangan Muhammad Ikhsan bergetar sesaat setelah notifikasi gaji masuk. Di tengah berbagai kebutuhan yang menanti setiap awal bulan, ada satu kebiasaan yang selalu ia lakukan lebih dulu: menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung dalam bentuk emas melalui BRImo.
Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Ikhsan, yang akrab disapa Iccang, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari upaya mempersiapkan masa depan, sedikit demi sedikit, tanpa harus menunggu memiliki dana dalam jumlah besar.
Di tengah perkembangan teknologi keuangan yang semakin pesat, menabung dan membangun aset kini bukan lagi aktivitas yang identik dengan modal besar atau proses yang rumit. Melalui layanan digital, masyarakat dari berbagai kalangan dapat mulai merencanakan keuangan jangka panjang dari dana yang relatif kecil sesuai kemampuan masing-masing.
Kesadaran itu tumbuh ketika ia memikirkan pentingnya memiliki perencanaan keuangan yang lebih terarah. Namun, ia menginginkan instrumen yang tidak rumit, aman, dan dapat dijalankan secara konsisten di tengah kesibukan sehari-hari.
Pilihan tersebut kemudian membawanya pada Tabungan Emas.
"Saya melihat emas sebagai pilihan yang aman dan cocok untuk saya. Selain mudah dipahami, saya juga bisa memulainya dari nominal yang terjangkau sehingga tidak perlu menunggu memiliki dana besar terlebih dahulu," ujarnya.
Baginya, emas bukan sekadar pilihan untuk menyimpan dana. Ia melihatnya sebagai cara menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Di tengah berbagai pilihan instrumen keuangan yang tersedia saat ini, emas memberikan rasa nyaman karena telah lama dikenal masyarakat dan memiliki mekanisme yang relatif mudah diikuti.
Kemudahan layanan digital semakin menguatkan keputusannya. Melalui BRImo, seluruh proses dapat dilakukan secara praktis, mulai dari pembukaan rekening hingga pembelian emas. Semua bisa dilakukan dari ponsel tanpa harus meluangkan waktu khusus di tengah aktivitas pekerjaan.
Namun, seiring waktu, yang bertambah bukan hanya saldo Tabungan Emas yang dimilikinya. Di balik transaksi yang rutin dilakukan setiap bulan, tumbuh kebiasaan baru yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap pengelolaan keuangan.
Kebiasaan menyisihkan dana setiap bulan membuatnya lebih disiplin dalam mengelola keuangan. Setiap kali menerima gaji, sebagian dana langsung dialokasikan untuk menabung emas. Ketika memperoleh penghasilan tambahan, jumlah yang disisihkan pun ikut bertambah.
"Yang saya rasakan bukan hanya bertambahnya tabungan emas, tetapi juga tumbuhnya kebiasaan untuk lebih teratur dalam mengelola keuangan," katanya.
Rutinitas tersebut kemudian melebur menjadi bagian dari kesehariannya hingga hari ini. Bahkan, ia pernah mencetak sebagian saldo Tabungan Emas yang dimilikinya menjadi emas fisik.
"Pengalamannya cukup baik. Prosesnya jelas dan memberikan rasa aman karena saya bisa melihat langsung hasil yang telah saya kumpulkan," tuturnya.
Jika Iccang memulainya dari penghasilan bulanan sebagai pekerja kantoran, Irma mengenal kebiasaan yang sama dari uang saku semasa kuliah.
Berbekal uang saku dan pemasukan tambahan yang tidak selalu besar, ia mulai belajar menyisihkan sebagian dana untuk ditabung dalam bentuk emas. Baginya, masa kuliah justru menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengenal pentingnya mengatur keuangan sejak dini.
Keinginannya untuk memiliki simpanan bagi kebutuhan di masa mendatang membuatnya tertarik mencoba Tabungan Emas melalui BRImo. Kemudahan akses serta fleksibilitas nominal menjadi alasan utama yang membuatnya tertarik mencoba layanan tersebut.
"Yang saya sukai adalah prosesnya sangat praktis. Saat ada uang saku lebih atau tambahan pemasukan, saya bisa langsung membeli emas melalui BRImo. Semuanya bisa dilakukan dari ponsel sehingga terasa lebih mudah dan fleksibel," ujarnya.
Awalnya, Irma hanya ingin menyimpan sebagian uang yang dimilikinya agar tidak habis untuk kebutuhan konsumtif. Namun tanpa disadari, upaya sederhana untuk menahan pengeluaran konsumtif itu perlahan berkembang menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang dijalankannya secara konsisten.
Menurutnya, masih banyak anak muda yang menganggap pengelolaan aset sebagai sesuatu yang rumit dan membutuhkan modal besar. Padahal, kemudahan layanan digital saat ini membuat siapa pun dapat memulainya dari nominal yang relatif kecil.
"Kadang orang berpikir harus menunggu punya uang banyak dulu. Padahal yang penting adalah memulainya terlebih dahulu. Dari nominal kecil pun lama-kelamaan hasilnya bisa terasa," katanya.
Selain kemudahan transaksi, faktor keamanan juga menjadi alasan yang membuatnya nyaman menggunakan layanan tersebut. Seluruh proses dapat dipantau secara langsung melalui aplikasi sehingga memberikan rasa aman dan transparan bagi pengguna.
Baginya, teknologi tidak hanya membuat transaksi menjadi lebih mudah. Kehadirannya juga membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda untuk belajar mengelola keuangan dan membangun kebiasaan menabung sejak dini.
"Teknologi membuat semuanya lebih mudah. Kita bisa mengatur keuangan, bertransaksi, sekaligus menabung emas dalam satu aplikasi. Itu yang membuat saya semakin termotivasi untuk melakukannya secara rutin," tuturnya. (Amin Rais)
