Prof. Drs. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.
Percayakah anda pada sebuah pandangan bahwa kebanyakan manusia lebih tertarik pada penampilan fisik dibanding visinya? Kita menjawab masing-masing dalam diri sambil membedah dua kata kunci di atas.
Fisik adalah penampilan diri, kegantengan atau kecantikan, sesuatu yang "given", pemberian Tuhan. Yang tidak termasuk dalam konteks ini adalah yang menjadi ganteng atau cantik karena operasi plastik.
Fisik bermakna kepemilikan bersifat material; kaya, konglo, berduit atau "crazy rich". Menjadi kaya ini berpengaruh pada fasilitas dan kenyamanan hidup. Bukan hanya kebutuhan sekunder yang terpenuhi tapi juga kebutuhan tersier. Bukan lagi untuk sekadar nyaman tapi yang diburu adalah gengsi.
Fisik juga berarti predikat yang melekat pada diri; jabatan, organisasi, komunitas, gelar. Setinggi apa jabatan formal yang dudukinya. Sepenting apa posisinya pada organisasi yang dimasukinya. Sebanyak apa gelar yang melekat pada namanya.
Fisik adalah bentuk nyata yang melekat pada seseorang yang menjadi ornamen dan aksesoris hidup.
Berbeda dengan fisik, visi adalah sesuatu yang tidak bisa tersentuh atau tak berwujud, Istilahnya "intangible". Namun visi adalah pikiran yang menandai kesejatian seseorang. Bisa dibayangkan kalau seseorang dalam hidupnya tidak pernah memanfaatkan pikirannya.
Visi adalah pandangan tentang dunia (worldview), cara melihat realitas hidup dan bagaimana memaknainya. Termasuk bagaimana memaknai nilai hidup dan meramunya menjadi tujuan hidup. Ada istilahnya dalam filsafat modern, tapi takut salah menulisnya karena terlalu banyak huruf matinya. Jadi bila fisik itu adalah merek dagangan yang menunjuk pada prestise, maka visi adalah merek gagasan yang menunjuk pada prestasi.
Visi itulah yang mencirikan hakekat diri seseorang dalam berinteraksi. Visi yang membuat seseorang memiliki harga yang tidak ternilai. Visi yang membuat pertautan hidup itu bermakna. Visi yang memotivasi selalu untuk membangun harapan.
Kata seorang tokoh, identitas fisik hanya permulaan untuk sebuah ikhtiar baik. Tapi visi yang menentukan ikhtiar itu berdampak baik. Menurutnya, organisasi sebagai fisik adalah permulaan untuk memulai gerakan, tetapi sentimen gerakan itu hanya bisa berlanjut bila disertai dengan visi. Perkumpulan bisa terjadi karena fisik, tetapi jejaring bisa merambah hanya dengan visi.
Lebih jelasnya seperti ini, mereka yang punya pengalaman hidup masa lalu dengan asmara yang sering tertolak lalu membuat "dukun bertindak" itu contoh nyata sebagai korban fisik. Karena yang kaya visi, tekadnya adalah suatu saat yang menolak itu akan berada dalam penyesalan tak bertepi. Betulka' to?
(Ikhlas/ Amd)