Prof. Drs. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.
Ada satu prilaku yang menandai itikad baik, melakukan kalibrasi diri. Secara umum kalibrasi diartikan sebagai standarisasi pengukuran atau penyetelan alat ukur agar angka pengukurannya bisa dipercaya.
Kalau mengukur berat badan misalnya, selalu dimulai dari angka nol supaya hasil pengukurannya dipercaya. Maaf, contoh pengukuran ini sensitif bagi banyak orang, termasuk saya yang mulai diet. Contoh lain, kalau beli buah langsat, supaya timbangan penjual terpercaya, dikalibrasi dengan membawa sendiri anak timbangan dasar, bisa beratnya satu atau dua kilo.
Namun kalibrasi di sini saya maknai sebagai pengukuran terhadap diri, pengecekan tingkat kesalehan, ibadah ritual yang dipraktekkan, ibadah sosial yang dilakukan. Kalibrasi di sini saya maknai sebagai instropeksi menuju perbaikan diri.
Mengkalibrasi dosa dan prilaku yang tidak terpuji yang masih sering menjadi bagian dari rutinitas hidup. Termasuk di dalamnya, mengecek kebiasaan buruk yang sudah membaik, dan apa yang stagnan, atau yang justeru makin memburuk.
Kalibrasi itu dibutuhkan karena begitu banyak di antara kita yang suka mencela perilaku buruk orang lain, hanya karena ukuran ketidaknyamanan kita untuk melakukannya. Sementara di sisi lain ada keburukan yang setiap saat kita lakukan dan tidak mencelanya karena berada dalam "status-quo" kenyamanan.
Jadi kalibrasi adalah kembali ke titik nol, karena dari sana bisa meneropong diri yang sesungguhnya. Kalibrasi adalah mencermati meteran yang berisi angka, bukan sekadar mengira karena dari situ kita bisa menghitung dengan benar tentang jarak kebaikan yang sudah dan akan kita tempuh.
Kalibrasi adalah menimbang kembali diri untuk tahu seberat apa ketidakterpujian kita di antara sesama, sehingga tahu menempatkan diri sekiranya kebaikan dan keburukan itu dikuantifikasi.
Kalibrasi adalah penyetelan alat ukur untuk menghitung jarak kita kepada Sang Pencipta, jarak untuk kembali yang pastinya makin hari makin dekat, tetapi alat ukur yang kita pakai sering bertambah tidak akurat, jarak yang dibuat semakin menjauh.
Kalibrasi adalah inti dari itikad baik. Termasuk itikad baik penjual kelapa muda saat mengecek apakah kelapa "pappabuka" yang dibelah itu betul masih muda atau sudah tua. Kalau sekadar menepuk-nepuk kelapanya, saya tidak pernah yakin bahwa itu pengecekan yang akurat. (Ikhlas/ Amd)