RAKYATSATU.COM, PINRANG - Dalam rangka memanjatkan rasa syukur kepada sang pencipta atas segala rejeki yang diperoleh, warga Kelurahan Sipatokkong, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang menggelar adat Mappadendang dan Mattojang, Kamis (29/10).
Kegiatan yang digagas oleh warga sekitar itu, dihadiri dari berbagai unsur mulai dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pinrang, Forkopimda dan masyarakat Kabupaten Pinrang.
Ketua Panitia acara adat Mappadendang dan Mattojang, Baharuddin mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk pelestarian budaya peninggalan, selain itu kegiatan ini juga sebaga rasa sykuru atas hasil panen yang melimpah.
"Kegiatan ini kami gelar setiap tahun. Tujuannya sebagai rasa syukur dan tentu untuk melsdetarikan budaya kita sendiri," kata Baharuddin.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan Pariwisata, Hamka Mahmud menyampaikan terimaksihnya kepada seluruh masyarakat setempat yang turut menyuksesjUntuk melistarikan budaya mappadendang dan mattojang" ucapnya
"Ini merupakan salah satu permainan rakyat yang harus kita lestarikan, Agar tidak hilang kedepannya," ucapnya.
Dikatakan Hamka, sebagai pemerintah daerah kegiatan seperti ini tentu sangat didukung. Karena keinginan untuk tetap melestarikan dan mengenalkannya kepada penerus bangsa.
"Kalau dilihat dari sektor pariwisata maka perlu ada pengembangan sehingga mampu mengundang wisatawan," tutupnya.
Untuk diketahui, Mappadendang adalah acara penumbukan gabah pada lesung dengan menggunakan tongkat besar, yang menghasilkan suara tumbukan berirama, sembari diiringi dengan tarian manca.
Sementara, Mattojang adalah acara memainkan ayunan setinggi 10 Meter, yang terbuat dari bahan rotan, bambu, dan batang pohon pinang.(Gun)
Kegiatan yang digagas oleh warga sekitar itu, dihadiri dari berbagai unsur mulai dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pinrang, Forkopimda dan masyarakat Kabupaten Pinrang.
Ketua Panitia acara adat Mappadendang dan Mattojang, Baharuddin mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk pelestarian budaya peninggalan, selain itu kegiatan ini juga sebaga rasa sykuru atas hasil panen yang melimpah.
"Kegiatan ini kami gelar setiap tahun. Tujuannya sebagai rasa syukur dan tentu untuk melsdetarikan budaya kita sendiri," kata Baharuddin.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan Pariwisata, Hamka Mahmud menyampaikan terimaksihnya kepada seluruh masyarakat setempat yang turut menyuksesjUntuk melistarikan budaya mappadendang dan mattojang" ucapnya
"Ini merupakan salah satu permainan rakyat yang harus kita lestarikan, Agar tidak hilang kedepannya," ucapnya.
Dikatakan Hamka, sebagai pemerintah daerah kegiatan seperti ini tentu sangat didukung. Karena keinginan untuk tetap melestarikan dan mengenalkannya kepada penerus bangsa.
"Kalau dilihat dari sektor pariwisata maka perlu ada pengembangan sehingga mampu mengundang wisatawan," tutupnya.
Untuk diketahui, Mappadendang adalah acara penumbukan gabah pada lesung dengan menggunakan tongkat besar, yang menghasilkan suara tumbukan berirama, sembari diiringi dengan tarian manca.
Sementara, Mattojang adalah acara memainkan ayunan setinggi 10 Meter, yang terbuat dari bahan rotan, bambu, dan batang pohon pinang.(Gun)