RAKYATSATU.COM, MAROS - Bel sekolah baru saja berbunyi ketika halaman SDN 18 Belang-belang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mulai ramai. Anak-anak berseragam bergegas menuju kelas. Sebagian masih bercanda dengan teman, sementara guru bersiap memulai pelajaran.
Di antara mereka, Nur Hafiza, anak perempuan berusia tujuh tahun, menjalani pagi seperti biasanya. Namun, hari itu ia dan teman-temannya mendapat pelajaran tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: gizi, kesehatan, dan kebersihan.
Anak-anak diajak mengenali makanan yang mereka santap, memahami manfaatnya bagi tubuh, serta mengenal kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan.
Bagi Hafiza, salah satu pembahasannya terasa akrab. Telur dan susu sudah menjadi bagian dari menu sehari-harinya di rumah. Telur ceplok biasa dipadukan dengan roti, sementara telur rebus disantap bersama nasi. Susu juga menjadi bagian dari asupan yang disiapkan ibunya, Rosmini.
“Anak lebih suka makan telur, kadang ceplok kadang rebus. Kalau ceplok itu dipadukan dengan roti, kalau rebus biasanya dengan nasi,” kata Rosmini.
Selama ini, telur bagi Hafiza lebih dikenal sebagai makanan yang ia sukai. Melalui kegiatan di sekolah, ia mulai mengenal manfaat makanan tersebut bagi tubuh dan memahami bahwa asupan sehari-hari berkaitan dengan pertumbuhan dan kesehatan.
Pemahaman itu diperkenalkan melalui JAPFA for Kids, program PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang hadir di sekolahnya. Di SDN 18 Belang-belang yang memiliki 197 siswa, kegiatan juga melibatkan guru dan orang tua agar pengetahuan yang diperoleh anak dapat diterapkan dalam keseharian.
Materi diberikan melalui hal-hal yang sudah dikenal anak. Makanan yang biasa mereka santap menjadi bagian dari pembelajaran, sementara mencuci tangan sebelum makan diperkenalkan sebagai salah satu perilaku hidup bersih dan sehat.
Salah satu pendamping JAPFA for Kids di Maros, Agil, melihat langsung perbedaan kebiasaan anak di setiap sekolah yang ia datangi. Ada yang sudah terbiasa menjaga kebersihan, ada pula yang masih perlu diingatkan untuk melakukan hal sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan.
Bagi Agil, keberhasilan pendampingan bukan hanya dilihat dari kemampuan anak mengingat materi ketika kegiatan berlangsung. Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut tetap mereka ingat dan diterapkan setelah kembali ke rumah.
“Bahan makanan yang dibagikan bisa habis dalam waktu sekejap. Namun perilaku sehat yang ditanamkan akan terus tumbuh, menemani anak-anak itu hingga dewasa,” ujar Agil.
Apa yang disampaikan Agil bukan hanya tentang satu kegiatan atau satu sekolah. Ia berbicara tentang proses yang membutuhkan waktu dan pengulangan.
Proses itu telah berlangsung selama 18 tahun.
18 Tahun Menanamkan Kebiasaan
JAPFA for Kids dimulai pada 2008. Sejak awal, sekolah menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan gizi, kesehatan, dan kebersihan kepada anak-anak. Guru dilibatkan karena berinteraksi dengan siswa setiap hari, sedangkan orang tua menjadi bagian dari proses karena kebiasaan yang diperkenalkan di sekolah perlu diteruskan di rumah.
Selama 18 tahun, pendekatan tersebut dibawa dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Hingga 2025/2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah yang tersebar di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan luasnya cakupan program. Di baliknya terdapat pesan yang terus diperkenalkan dari satu generasi siswa ke generasi berikutnya: mengenali makanan yang baik bagi tubuh, memahami manfaatnya, menjaga kebersihan, dan membangun kebiasaan sehat.
Satu kegiatan mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat, tetapi kebiasaan membutuhkan proses yang lebih panjang. Karena itu, keterlibatan guru dan orang tua menjadi penting agar pengetahuan yang diperoleh anak tidak berhenti ketika kegiatan di sekolah selesai.
Ketika Gizi Tidak Berhenti di Piring
Perhatian terhadap pemenuhan gizi anak juga semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, makanan yang tersedia hanyalah satu bagian dari kebutuhan anak. Mereka juga perlu memahami apa yang dikonsumsi, manfaatnya bagi tubuh, serta kebiasaan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan.
Dalam konteks itu, edukasi menjadi bagian yang melengkapi pemenuhan pangan. Anak dikenalkan pada makanan bergizi sekaligus perilaku hidup bersih dan sehat, dengan sekolah dan keluarga dilibatkan dalam prosesnya.
Bagi Hafiza, perjalanan 18 tahun JAPFA for Kids mungkin belum memiliki arti apa-apa. Ia baru berusia tujuh tahun.
Yang ia kenal adalah telur ceplok dengan roti, telur rebus dengan nasi, dan susu yang biasa disiapkan ibunya. Dari kegiatan di sekolah, ia mulai memahami manfaat makanan yang dikonsumsinya dan pentingnya mencuci tangan sebelum makan.
Telur tetap menjadi bagian dari menu sehari-hari Hafiza. Namun, kini ia mengenalnya tidak hanya sebagai makanan yang disukai, tetapi juga sebagai salah satu sumber asupan yang mendukung kebutuhan tubuh dalam masa pertumbuhan.
Pengetahuan yang diperoleh Hafiza di sekolah menjadi bagian dari proses yang lebih panjang, sebuah proses yang telah dijalankan JAPFA for Kids selama 18 tahun dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dengan harapan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang dibawa anak hingga dewasa. (Ikhlas/Amin)

