loading...

Hadapi 10 Anak Autisme di Toraja, Johan Akui Sulit Lakukan Kontak Mata

Hadapi 10 Anak Autisme di Toraja, Johan Akui Sulit Lakukan Kontak Mata
Ilustrasi/ Istimewa
RAKYATSATU.COM, TORAJA - Di Hari Peduli Autisme Sedunia (Internasional) ini, penderita autisme memiliki jumlah yang lumayan banyak di Toraja. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar untuk mengurangi dampak autisme bagi penderita. 

Gangguan pada otak yang menyebabkannya tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal, membuat Johan, tenaga pengajar di Toraja, sulit mencari titik konsentrasinya, yaitu kontak mata. 

Mengajar di dua Kabupaten, Toraja Utara dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah anak- anak tersebut, dan di Tana Toraja dilaksanakan di samping rumah jabatan bupati.

Johan yang merupakan satu- satunya pengajar lulusan Strata 1 jurusan pendidikan luar biasa ini, mengaku sangat suka berada di sekitar anak- anak tersebut. 

Dari sepuluh anak autisme yang dihadapinya saat ini, beberapa pengajaran yang Johan tekankan yang pertama tentunya kontak mata, kedua yaitu sosialisasi dan yang ketiga tingkat bahasa yang terdiri atas dua bahasa yaitu pasif dan aktif. 

"Kepedulian terhadap penderita autisme di sekeliling kita, harus dilakukan secara bersama-sama," kata Johan dengan nada sedih, Senin (02/04). 

Hal ini akibat, banyaknya masyarakat menganggap penderita autisme sebagai penyakit kejiwaan yang membuat penderita dipojokkan di lingkungan tempat tinggalnya. 

Kesadaran dari para orangtua pun, menjadi kunci utama untuk kesembuhan anaknya, untuk segera dilakukan terapi dan pengajaran di ruang kelas yang khusus. 

"Semoga di hari peduli autisme ini, masyarakat stop membulli, memojokkan dan justru bersama-sama mendukung kesembuhan penderita," kuncinya. (San/ Kris)
loading...
close
Rakyatsatu